Sejarah Senat Mahasiswa UGM_1

•November 27, 2007 • Leave a Comment

SETELAH kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan diterapkan pemerintah Orde Baru, Di lingkungan Universitas Gadjah Mada, de facto BKK memang ada namun tidak berjalan dengan baik. Aktivitas dilakukan secara terpisah oleh Senat Mahasiswa di lingkungan fakultasnya masing-masing, atau Himpunan Mahasiswa Jurusan. Atau juga oleh Unit-unit Kegiatan Mahasiswa, organ Dewan Mahasiswa UGM yang masih dibiarkan hidup dan berpusat di Gelanggang Mahasiswa UGM.

Pada tahun 1985 dengan tidak efektifnya fungsi BKK sejumlah Ketua Senat Mahasiswa Fakultas bertemu dengan para Pengurus Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Pertemuan tersebut sepakat untuk secara rutin bertemu secara bergiliran di berbagai fakultas atau Sekretariat UKM yang ada di lingkungan UGM. Bekas Sekretariat Dewan Mahasiswa yaitu Gelanggang Mahasiswa UGM juga kerap dijadikan tempat pertemuan, terutama ruang Kopma dan Pers Mahasiswa UGM. Juga Balairung Kantor Pusat UGM.

Diantara motor pertemuan saat itu antara lain Abdul Latief (Ketua Umum Senat Mahasiswa Fisipol UGM), Sugeng Bahagijo (Ketua Umum Senat Mahasiswa Filsafat) dan Moh Saefuddin (Ketua Umum Senat Mahasiswa Fakultas Geografi UGM). Yang menarik, sejumlah aktivis non formal juga kerapkali ikut serta dalam pertemuan tersebut. Sebut saja nama-nama seperti Genot Widjoseno, Rizal Mallarangeng, M. Thoriq, Afnan Malay, Coki, Didit Girli dan sebagainya.

Mentor mereka saat itu ada dua orang. Pertama, Taufik Rahzen, pemimpin Studi Klub Teknosofi. Mahasiswa Teknik Kimia UGM ini malah lebih sering tampak di Gedung Filsafat yang ada di Gedung Pusat UGM daripada di kampusnya sendiri di Skip. Kedua, M. Thoriq yang juga pemimpin pers mahasiswa UGM Balairung, mahasiswa Fakultas Ekonomi UGM.

Namun baru setelah berlangsungnya Pemilu mahasiswa UGM pada tahun 1987, serta didorong oleh Rektor UGM yang baru Koesnadi Hardjasoemantri pada akhirnya para aktivis Senat Mahasiswa berhasil mengukuhkan keberadaan Forum Komunikasi Senat Mahasiswa dan Badan Perwakilan Mahasiswa UGM atau Forkom SEMA/BPM UGM. Saat itu tidak terfikirkan untuk melibatkan para aktivis Unit Kegiatan Mahasiswa didalamnya, meskipun secara informal pertemuan dua komponen yang berbeda orientasi itu tetap berjalan.

Salah satu prestasi yang sempat ditorehkan oleh Forkom SEMA/BPM itu adalah keberanian institusi tersebut melakukan Pernyataan Sikap Menolak SDSB. Hebatnya lagi pernyataan yang disampaikan ke DPRD Provinsi DI Yogyakarta itu diantar sendiri oleh Rektor UGM. Aksi ini kontan mendapat liputan hangat media massa nasional. Bayangkan, seorang Rektor mengantar aksi demo para mahasiswanya ke ParlemenĀ !

Mahasiswa

Hello world!

•November 26, 2007 • 2 Comments

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!